Transformers: Dark of the Moon 3D

Posted by Budi Cahyono On Agustus - 04 - 2011

Kembalinya sang sutradara slam-bang, bersiaplah karena kini dia akan benar-benar menghancurkan kota dengan teknologi 3D yang mencengangkan

Day and Night

Posting oleh Budi Cahyono pada Juni - 2010

Sajian film pendek dari Pixar sebelum Toy Story 3, adat istiadat yang menyenangkan dan kini mereka mengawinkan antara 2D dan 3D sekaligus! :D

Salt

Posted by Author On Month - Day - Year

Siapakah Salt itu? apakah segepok garam? ataukah dia seorang perempuan petambak garam dengan rambut khas orang pesisir? mungkin sangat berkaitan, tapi ini tentang Salt yang berbeda. Dia adalah Spy! :D

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

Transformers: Dark of the Moon

Diposting oleh Budi Cahyono On 12:44:00 AM 3 komentar
Saat kali pertama Transformers mengudara di tahun 2007 silam dengan perolehan uang sebesar $ 320 juta untuk wilayah Amerika saja, Michael Bay kembali membuat hiburan beroktan tinggi seperti style-nya yang selalu melekat disetiap karyanya, meledakkan sesuatu hingga berkeping-keping, kamera bergerak cepat, helicopter di senja hari, car case, plus sedikit sentuhan slow motion. Kali ini dia dititipi tanggung jawab untuk mempertemukan monster besi antara klan Autobots pimpinan Optimus Prime dan klan Decepticon yang dinahkodai Megatron, tentu bukan untuk bermusyawarah untuk mufakat.

Disambut meriah oleh banyak penonton terutama remaja, Bay pun melanjutkan estafet lewat film Transformers: Revenge of the Fallen ditahun 2009 yang lalu dicerca habis-habisan oleh sebagain besar kritikus bahkan oleh pemainnya sendiri “Kami berusaha membesarkannya, itu yang terjadi pada sekuel dan akhirnya malah terlalu besar. filmnya tak bermakna, hubungan antar karakternya malah jadi kendor. Hanya tentang kelompok robot yang saling baku hantam” ucap Shia LaBeauf, pemeran karakter Sam Witwicky. Tapi Transformers: Revenge of the Fallen menghasilkan $ 402 juta! atau yang terlaris hingga hari ini.

Michael Bay lantas tidak menebus dosanya, dia malah memperluas cakupan pertempurannya dengan menutup seri ini dengan pertempuran gila baik horizontal maupun vertikal “Akan ada adegan laga yang keren di film ini, juga konspirasi yang menarik. Akan lebih serius, aku menghilangkan komedi konyolnya. Kami memang mempunyai 2 karakter kecil, tapi tidak akan konyol, kujamin.” Teriak Bay semangat, begitu pula dengan Shia yang menaikkan taruhannya dengan mengatakan “Saat menyaksikan film kedua, aku kurang sreg dengan apa yang kita kerjakan, tak ada jiwanya. Maka kali ini akan lebih banyak kematian, mereka memang mengincar manusia. Ini akan menjadi film action terheboh! Jika tidak, artinya kami gagal.” Sayangnya, kalimat terkahir menjadi kenyataan.

Ada garis miring diantara kegilaan tersebut, tentu gila yang terakhir bermakna lain :) Karena sesumbar Michael Bay ternyata hanyalah gertak sambal. Dark of the Moon tak ubahnya seperti film Battle: LA meski nyaris sejam terkahir film ini berisi adegan dimana kota Chicago menjadi medan perang.

Tidak ada ketakutan massal di bagian dunia yang lain, padahal Bumi sebentar lagi akan musnah diduduki kerajaan Cybertron yang Sentinel Prime (Leonard Nimoy) sudah susah payah lakukan. Jangan tanyakan kapasitas akting pemainnya, Rosie disini hanyalah pengganti “pemanis” sebelumnya yang kini ngambek tidak mau kembali diarahkan Michael Bay yang dia anggap Hitler itu. “He wants to be like Hitler on his sets, and he is.” Ucap Megan Fox. Jangan pula tanyakan kualitas cerita yang komandani oleh Ehren kruger, bahkan Roberto Orchi dan Alex Kurtzman (penulis duo film Transformers sebelumnya) kemudian menggarap Star Trek, dan sukses! Ada baiknya kita hanya duduk manis menyaksikan mereka bertempur, Rosie yang seksi itu berlari kesana-kemari, karena mungkin itulah hiburan terbaik musim panas ini sekaligus motivasi utama Bay melanjutkan seri ketiga pertama dalam catatan sejarah karyanya sejauh ini. Berani taruhan dua minggu setelah film ini dirilis sudah tembus $ 200 juta untuk wilayah Amerika saja? saya berani.

Oh ya, terakhir. Saya ragu tentang apa yang sebenarnya ada dibenak Michael Bay yang sudah diberi uang yang sangat banyak itu, 195 juta dollar sodara! (meski memang lebih murah ketimbang Transformers: Revenge of the Fallen) sehingga harus meng-copy-paste adegan roda rel kereta api menggelinding dan menghantam beberapa mobil dijalan tol dalam film The Island (2005) itu dimasukkan ke dalam film Transformers 3 ini, dengan mengganti roda rel dengan robot! Payah.

Kesimpulan: Film Transformers adalah film berdurasi 157 menit yang murni ingin mempersembahkan sajian penghibur mata dan telinga dengan ending perpisahan yang tidak sempurna dan jika kalian bertanya perihal sineas yg menuhankan special effect, James Cameron mungkin terbaik mengingat olahan ceritanya juga level Oscar, tapi Michael Bay harus ada di list & mungkin diurutan teratas.


INDONESIAN MOVIE BLOGGER

Diposting oleh Budi Cahyono On 12:34:00 AM 0 komentar
| edit post

BATMEMENTO ON FACEBOOK

Diposting oleh Budi Cahyono On 10:56:00 PM 0 komentar


Thanks buat yang dah nge-like this page..




Share This Post On :


| edit post

Review Film Step Up 3 [3D]

Diposting oleh Budi Cahyono On 5:44:00 PM 0 komentar


Pemain : Rick Malambri, Adam Sevani, Sharni Vinson, Alyson Stoner
Sutradara : Jon Chu
Penulis : Amy Andelson, Emily Meyer
Genre : Drama, Musical
Produser : Patrick Wachsberger, Erik Feig, Adam Shankman, Jennifer Gibgot
Produksi : Summit Entertainment, Touchstone Pictures















Lama bertapa di gunung-nak-nung-beto-klettak-tar-centaran, akhirnya saya kembali nge-blog. Terakhir nonton film dibioskop adalah Step Up 3 di Surabaya Town Square tanggal 1 November 2010 setelah gagal nonton Takers, dan woww baru hari ini mostinginnya. Jon Chu memberi kita visual dan audio yang menarik, jadi biarkan saja sisi naskah dan pengembangan karakternya menjadi pelengkap karena point keren yang saya dapatkan adalah musik dan 3D, ya tanpa musik film ini akan tersimpul buruk. Tapi inilah pertama kalinya saya nonton film yang full musik.

Kedua adalah 3D, lupakan film ini andaikan anda tidak menontonnya dibioskop khusus yang menyediakan fasilitas 3D didalamnya karena Step Up 3D adalah film 3D non-animasi terhebat tahun ini, apalagi jika nontonnya lewat bajakan. Pencerahan ditengah mabuknya boss-boss Hollywood yang serakah dengan hanya meng-convert film 2D ke 3D seperti Alice In Wonderland, Clash Of The Titans dan The Last Airbender, Padahal hasilnya buruk. James Cameron rasa-rasanya perlu me-rental-kan kamera 3D-nya ke sineas yang ingin membuat ketertarikan penonton akan efek 3D. Hey hingga hari ini Sutos XXI masih memutar film ini, satu bukti bahwa masih banyak juga yang menyukai Step Up 3D.

Tiket Bioskop : Title : Step Up 3 (3-D) Date : Monday, 01 November 2010 Time : 14.55 WIB Auditorium : Row C, Seat 10, Studio 03 Location : Surabaya Town Square (SUTOS XXI) Price : IDR 35.000

Share This On :





Pemain : Emily Barclay, Abbie Cornish, Essie davis, Adrienne DeFaria, Joel Edgerton, Deborra-Lee Furness, Sacha Horler, Bill Hunter, Ryan Kwanten, Anthony LaPaglia, Helen Mirren. 
Sutradara : Zack Snyder.
Naskah : John Orloff, Emil Stern.
Tanggal Rilis : 28 September 2010 (Indonesia)
Genre : Animasi, Adventure, Family.
Rating : PG.
Durasi : 90 Menit.
Produser : Zareh Nalbandian.
Distributor : Warner Bross.












Melihat seorang sineas muda mulai bersahabat dengan burung hantu dalam bentuk Animasi tiga dimensi mungkin terlihat wajar kecuali dia adalah sineas potensial yang selalu memberi kita sebuah film berating R (hanya diperuntukkan bagi penonton dewasa) dalam seluruh katalog karya sinematik sebelumnya, saya pribadi mengenal sineas kelahiran Wisconsin Amerika Serikat tanggal 1 Maret 1966 ini pertama kali lewat penuturan kisah horror bergenre zombie tentang kekacauan dunia saat wabah mengerikan menyebar kurang dari 24 jam dan membuat milliaran manusia menjadi mayat hidup penuh kegilaan tahun 2004 lalu, sebuah remake dari judul lawas tahun 1978 karya George A Romero dengan title lengkap Dawn Of The Dead. Zack Snyder memulai debut penyutradaraan film layar lebar dengan sesuatu yang berdarah-darah, sekuens yang menegangkan dibangun dengan bayang-bayang brutalitas dari ribuan zombie menjijikkan itu sendiri, mengerikan membayangkan semuanya terjadi begitu cepat, tidak pasti dan tanpa peringatan apapun.

Snyder dianggap sebagai sineas yang kembali mempopulerkan genre Zombie kepermukaan setelah sekian lama terpendam dalam liang lahat, namun di tahun 2007 Snyder merilis film adaptasi dari sebuah komik karangan Frank Miller berjudul 300. Sajian kolosal penuh dengan naluri kekerasan dan berujung perang akbar disebuah celah bukit sempit bernama Thermopylae yang mempertemukan Gerard Butler sebagai Leonidas, pemimpin 300 pasukan Sparta dengan Rodrigo Santoro sebagai penguasa tiran dari Persia beserta jutaan pasukannya yang terdiri dari sekumpulan manusia terlatih, hewan buas dan monster mengerikan serta memadukannya dengan musik rock yang keras. Bantuan teknologi efek visual komputer hampir 90% durasi dan adegan slow-motion setidaknya mengubah intensitas nudity & violence karya kedua Snyder menjadi tampak lebih lugas dan berkelas, visualisasinya lebih mengarah ke art. Namun bagaimanapun itu, 300 tetaplah film brutal dengan pamer visual muncratan darah dimana-mana, kepala dipenggal dan tumpukan mayat bergelimpangan.

Rekam jejak perjalanan Snyder kemudian singgah di Amerika beberapa abad lalu saat ketegangan antara Amerika dan Russia mengalami pasang surut, film noir superhero era klasik yang menguak peristiwa penting tentang siapa pelaku pembunuhan Presiden John F Kennedy, kemenangan Amerika melawan Vietnam dengan bantuan salah satu superhero berwarna biru akibat radiasi nuklir bernama Dr. Manhattan/Jon Osterman (yang diperankan oleh aktor film Almost Famous - 2000, Billy Crudup) adalah sekelumit mengenai komplektisitas film yang di adaptasi dari selusin novel grafis karya Alan Moore dan Zack Snyder berhasil melaluinya dengan bryllian. Eksplorasi yang mengubah tatanan sejarah panjang politik negeri Paman Sam hanyalah bagian luar karena Snyder kemudian mengajak kita untuk lebih intens memasuki wilayah yang lebih spesifik dan lebih kelam yakni sisi kemanusiaan yang ditampilkan begitu getir dan sakit, hampir semua karakter pahlawan ditampilkan mempunyai komplikasi serius diranah itu dan itulah yang membedakannya dengan film Dawn Of The Dead (2004) dan 300 (2007).

Membaca silsilah sinematik sineas dengan aura khas yang kelam ini kemudian mencoba memberi kita sebuah film untuk konsumsi keluarga (khususnya anak-anak dibawah umur) yang bergenre kartun animasi dan didapuk menjadi sajian teknologi tiga dimensi (3-D) adalah pertanda yang mengejutkan, saya membayangkan beberapa burung hantu berseteru dengan cara saling mencabik-cabik hingga tewas dan tabrakan keras helm yang mereka pakai hingga memercikkan api sebelum saya benar-benar menyaksikannya dibioskop (lewat tayangan 3-D) tanggal 04 Oktober lalu di Supermal Pakuwon Indah, Surabaya. Film tentang pertarungan antara yang baik dan yang jahat ini juga sekaligus menambah daftar film animasi tahun 2010 yang rata-rata memang dibuat secara 3-D untuk meraih lebih banyak lagi pemasukan bagi studio, ya karena harga tiket 3-D dua kali lebih mahal ketimbang yang reguler. Sebelumnya ada Hiccup yang berhasil menjinakkan puluhan naga liar dalam How To Train Your Dragon dibulan Maret, menjadikannya salah satu karya terhebat dari Dreamwork meski berada dibawah Kungfu Panda.

Shrek Forever After yang juga karya Dreamwork, pendatang baru yang menghadirkan ribuan makhluk kuning lucu dan imut bernama minions tentang perseteruan abadi dua penjahat untuk menunjukkan siapa yang paling hebat (dalam hal kejahatan) diantara keduanya dalam film Despicable Me yang kemudian disusul oleh Lee Unkrich yang mengarahkan animasi hebat perjalanan panjang persahabatan antara mainan dan majikannya (Andy) dalam mahakarya persembahan dari dedengkot raksasa film animasi, Pixar Animation Studio berjudul Toy Story 3 dengan short filmnya, Day And Night. Mendapati Snyder berada ditengah-tengah ke empat film animasi diatas, serta mengkorelasikannya dengan ketiga karyanya yang penuh dengan kekerasan membuat saya tersenyum dan bertanya-tanya tentang sehebat apakah yang melatarbelakangi Snyder bersedia mengarahkan kisah burung hantu adaptasi dari novel karangan Kathryn Lasky, meski bisa dibilang efek 3-D nya terasa nendang alias eye-popping banget seperti terasa keluar dari layar terutama saat salah satu tokoh burung hantu (Soren) berlatih dibawah badai ditengah lautan.

Selain bergumul dengan genre baru, Snyder juga merilis Legend Of The Guardians : The Owls Of Ga’Hoole dibulan sepi pasca pesta summer (dari bulan Mei hingga bulan Agustus), Oktober dan itu adalah jadwal baru karena ketiga karya sebelumnya selalu jatuh pada bulan Maret sesuai dengan bulan kelahirannya (dan juga bulan kelahiran saya-promosi, hehe *gak nyambung*) sangat berisiko dan terbukti demikian, Snyder mulai meniru jejak langkah Ice Age 3 : Dawn Of The Dinosaurs yang dirilis dibulan Juli 2009, padahal dua seri Ice Age sebelumnya, Ice Age (2002) dan Ice Age : The Meltdown (2006) sama-sama dirilis bulan Maret, ketiganya secara berurutan menghasilkan box office (wilayah domestik, USA) sebesar 176 juta dollar untuk yang pertama, 195 juta dollar untuk yang kedua dan 196 juta dollar untuk yang ketiga. Sedangkan keempat karya Snyder secara berurutan tahun rilis menghasilkan pendapatan box office sebesar 59 juta dollar untuk Dawn Of The Dead (2004), 210 juta dollar untuk film 300 (2007), 107 juta dollar untuk Watchmen yang dirilis tahun 2009 dan 31 juta dollar pemasukan sementara (minggu kedua hingga 3 Oktober 2010) untuk Legend Of The Guardians : The Owls Of Ga’Hoole dengan opening hanya sebesar 16 juta dollar saja alias terendah dan lebih rendah ketimbang opening Dawn Of The Dead (26 juta dollar)

Jika saya boleh menerka dan menyimpulkan, Snyder melihat potensi Ga’Hoole seperti melihat 300 versi burung hantu, melihat bahwa The Guardians adalah pasukan Sparta yang jumlahnya sedikit melawan kekuatan gelap yang juga digambarkan memiliki aura mistis yang menyebut dirinya Pure Ones sebagai penguasa lalim, layaknya Xerses dengan kaki tangannya yang jahat dan mistis namun dengan cara yang lebih halus nan lembut yang diwakili oleh karakter burung hantu mungil yang masih berusia belia bernama Eglantine (kalau tidak salah menyebut nama) Begitupula dengan alasan bahwa dia ingin membuat karya yang akan ditonton dan disukai oleh anaknya, okelah itu bisa diterima dan memang terlihat lembut diawal kisah saat kedua golongan baik The Guardians maupun The Pure Ones masih dalam bentuk legenda yang sering diceritakan oleh ayahnya, Noctus (diperankan oleh Hugo Weaving) dan diyakini oleh Soren (diperankan oleh Jim Sturgess) dan seluruh keluarganya kecuali salah satu saudaranya, Kludd (diperankan oleh Ryan Kwanten) yang diakhir kisah akan membelot dan mengabdi menjadi pasukan paling setia Pure Ones pimpinan Metalbeak (diperankan oleh Joel Edgerton).

Namun jangan lupa meski tanpa rating R seperti yang biasa Snyder lakukan, naluri brutalitas dengan nada khasnya juga muncul disini, dia benar-benar mem-back-up 300 kedalam Ga’Hoole lewat pertarungan epic puluhan ksatria tangguh burung hantu yang terbukti masih keras dan ya bayangan saya ternyata menjadi kenyataan, mereka saling mencabik-cabik diudara menggunakan helm bahkan cakar yang dibalut dengan besi yang sangat tajam plus slow-motion menakjubkan minus muncrat darah dan daging berceceran tentunya. Saya lantas membayangkan apa yang akan terjadi jika ini bukan lagi versi untuk konsumsi bocah SD? Dan saya pikir Animal Logic telah berbuat dosa dengan mengotori tangannya karena berani memvisualisasikan kekerasan dalam film ini kecuali aksi kocak film pendek 3-D berjudul Fur Of Flying buatan Warner Bross yang menghiasi layar sebelum film Legend Of The Guardians : The Owls Of Ga’Hoole dimulai, sebab bagaimanapun saya belum melihat yang seperti itu di Happy Feat (dirilis tahun 2006) yang lebih bersahabat dengan tari-tarian dan berteman baik dengan Oscar selain karena suasananya yang memang putih bersih. Hanya saja, hasil rendering animasi dari Animal Logic memang terbukti sangat halus dan hidup.

Pembuktian bahwa pertemanan Snyder dengan Burung Hantu ternyata tampil mengesankan plus imbuhan slow-motion beserta chaostic-nya yang menegangkan, hebatnya, perlu diketahui bahwa saat ini Snyder sedang mulai memikirkan sekuel 300 yang berjudul Xerses serta kabar besar saat Sutradara The Dark Knight (2008) dan Inception (2010) yang duduk sebagai Produser film Superman terbaru itu memanggil dan menugaskan Zack Snyder sebagai sutradara film Superman yang ber-sub judul The Man Of Steel yang menurut rencana dari Warner Bross harus sudah dirilis tahun 2012 nanti. Sebelum itu, film terdekat yang kini sudah dalam tahap penyelesaian akhir berjudul Sucker Punch akan dirilis bulan Maret 2011 sekaligus mengembalikan Snyder ke bulan seperti rilisan seluruh film karyanya (kecuali Ga’Hoole) Sucker Punch sendiri banyak yang menyebutnya sebagai Alice In Wonderland with machine gun! Memiliki premis tentang mimpi dunia fantasy lima cewek tangguh, versi lebih atraktif dari karya Christoper Nolan, Inception (2010). Bocoran dari cuplikan trailer yang sudah banyak beredar di internet, banyak hal yang kita lihat disini, seperti campuran buah dalam blender. Ada desingan senjata api dan ratusan selongsongan peluru, pesawat tempur klasik yang bersetting era Perang Dunia, sabetan pedang samurai, gembong mafia berjas-dasi dan bergelut dengan robot canggih bermuka lucu serta semburan api dari mulut naga yang mengerikan, sangat sulit mencari korelasinya kecuali toh dalam mimpi semua hal dapat terjadi. Apakah anda sudah siap menunggu ketiga proyek filmnya hadir dibioskop hingga dua tahun kedepan?

Riwayat Tiket Bioskop : 

Title : Legend Of The Guardians : The Owls Of Ga'Hoole 3-D Date : Monday, 04 Oktober 2010 Time : 12.00 - 13.30 WIB Auditorium : Row B, Seat 10, Studio 02 Location : Supermal Pakuwon Indah/PTC (SUPERMAL XXI) Price : IDR 30.000

Share This Post On :



KH. AHMAD DAHLAN (SANG PENCERAH)

Diposting oleh Budi Cahyono On 10:52:00 AM 7 komentar

Pemain : Lukman Sardi, Zaskia A. Mecca, Slamet Rahardjo, Giring (Nidji), Ihsan Taroreh, Ricky Perdana, Mario Irwinsyah, Dennis Adhiswara, Abdurrahman Arif, Sujiwo Tejo, Ikranegara, Yatti Surachman, Agus Kuncoro, Pangky Suwito, Dewi Irawan.
Sutradara : Hanung Bramantyo.
Naskah : Hanung Bramantyo.
Produser : Raam Punjabi.
Durasi : 123 Menit.
Genre : Drama, Biopik, Kolosal.
Tanggal Rilis : 8 September 2010.
Musik : Tya Subiakto.
Produksi : Multivision Plus Pictures.


Tidak banyak film (Indonesia) yang saya tonton dibioskop selama setahun 2010 (hingga Oktober) yang menurut kabar sudah menelurkan lebih dari 50 judul, saya mengawalinya dengan Merah Putih II dan Sang Pencerah. Bukan karena tidak ada lagi judul yang bagus sebelumnya, hanya belum ada kesempatan nonton dibioskop saja. Hanung Bramantyo kembali ke bioskop untuk meramaikan moment Lebaran tahun ini, setidaknya sudah mulai banyak dari kita yang terkondisikan bahwa libur lebaran yang ramai akan ritual arus mudik adalah musim panasnya perfilman Indonesia. Mengangkat seorang tokoh besar organisasi Islam di Indoensia yang kelak pengikutnya sangat banyak sekali, dengan setting lebih dari satu abad yang lalu dan itu butuh keakuratan yang super teliti, baik sumber kisah, kostum, kondisi sosial, lingkungan (bangunan) dan bahasanya. Alangkah indahnya jika film ini memakai 95 % bahasa Jawa disaat visualisasi Jogja jaman dahulu dan musik latarnya sudah sangat indah. Adegan favorit saya adalah saat merobohkan Langgar dan saat Dahlan dimarahi oleh Ibunya tentang dirinya yang dianggap kafir, hanya satu kata, keren!. Saya menyukai karya-karya Hanung sejak Jomblo (2006) dan Catatan Akhir Sekolah (2004), belum nonton Brownies, sih, meski ada sedikit-banyak juga penonton yang kurang menyukai Ayat-ayat Cinta (2007) dan Perempuan Berkalung Sorban (2009)

Saya nonton film ini tanggal 18 September yang lalu, namun baru sekarang (karena lupa, mungkin?) mereview-nya diblog ini, selain kekurangtahuan saya secara luas tentang Muhammadiyah dan seluk-beluk kisah pendirinya, KH Ahmad Dahlan. Well, ada dua hal yang sangat banyak diungkapkan di film ini, pertama adalah Arah Kiblat dan yang kedua adalah peng-Kafir-an, uniknya ritual Yasin-Tahlil dan selametan hanya ditampilkan sekilas. Saya pikir sindirannya pas dan relevan untuk kondisi akut saat ini yang seenaknya mengkafiri orang dan kekerasan atas nama agama. Apapun itu, sangat menyenangkan rasanya melihat studio satu (yang memutar film ini) disalah-satu bioskop mahal di Jatim (SUTOS XXI) selalu dipenuhi penonton.

Share This Post With : 



Riwayat Tiket Bioskop :

Title : Sang Pencerah
Date : Saturday, 18 September 2010
Time : 14:30 WIB
Auditorium : Row A. Seat 09. Studio 01
Location : Surabaya Town Square (SUTOS XXI)
Price : IDR 35.000;00


Saya menyaksikan momen tujuh belasan dibulan September, apakah mereka salah menyantumkan tanggal edar? tidak meski seharusnya begitu. Film ini jelas hanya menjual nama beken tenaga-tenaga ahli yang di impor dari Hollywood dengan sedikit imbuhan beberapa ledakan disana-sini, bukan ide yang buruk jika hasilnya memang efektif dan mengatrol kualitas isi, saya jadi inget film Ketika Cinta Bertasbih (2009) yang di dalam posternya bertuliskan asli mesir. Hasilnya, Darah Garuda memang lebih meledak-ledak ketimbang Merah Putih, namun jika trilogy ini dianggap sebagai film perang terhebat, monggo kita balik ke tahun 80'an lagi dimana aksi Sylvester Stallone yang sudah terbiasa meledakkan semuanya di film berjudul Rambo itu.

Pemain : Donny Alamsyah, Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Darius Sinathrya, Rahayu Saraswati, Atiqah Hasiholan, Astri Nurdin, Ario Bayu, Rudy Wowor, Aldy Zulfikar. Rating : R. Executive Produser : Hashim Djojohadikusumo dan Rob Allyn. Produser : Conor Allyn, Gary L Hayes, dan Jeremy Stewart. Sutradara : Yadi Sugandi dan Conor Allyn. Durasi : 105 menit. Genre : Action,War.


Lantas kapan donk kita bisa bikin film dengan special effect canggih? menggandeng Indutrial Light And magic misalnya, The Last Airbender (M. Night Shyamalan) yang buruk itupun sungguh sangat sulit untuk kita wujudkan. Untuk akting yang membatu dan beberapa hal buruk lainnya mestinya anda tanyakan saja kepada sang sutradara yang tak merubah sama sekali naskahnya, kurang lugas dan kurang meng-Indonesia meski bertema nasionalisme. Well, saya belum bertemu dengan Jenderal Sudirman sama sekali dan saya menginginkan itu difilm ketiga beserta ledakan super dahsyat lainnya.

Share This Post With :




Riwayat Tiket Bioskop :

Title :
Darah Garuda (Merah Putih II)
Date : Saturday, 18 September 2010
Time : 12:30 WIB
Auditorium : Row A, Seat 06, Studio 05
Location : Surabaya Town Square (SUTOS XXI)
Price : IDR : 35.000.00


Pemain : Sylvester Stallone, Jason Statham, Jet Li, Bruce Willis, Eric Roberts, Dolph Lundgren, Randy Couture, David Zayas, Steve Austin, Giselle Itie, Charisma Carpenter, Garry Daniels, Terry Crews, Mickey Rourke, Hank Amos, Arnold Scwharzenegger. Sutradara : Sylvester Stallone. Naskah : Dave Callaham, Sylvester Stallone. Musik : Bryan Tyler. Genre : Action, Adventure, Thriller. Rating : R. Durasi : 103 Menit. Tagline : "Choose your weapon". Executive Produser : Guymon Cassady, Boaz Davidson, Danny Dimbort, Bazil Iwanyk, Trevor Short, Les Weldon. Produser : Kevin King, Avi Lerner, Kevin King Templeton, John Thompson. Co-Produser : Robert Earl Tanggal Rilis : 13 Agustus 2010 Distributor : Millenium Films Casting : Deborah Aquila, Mary Tricia Wood. Film Editing : Ken Blackwell, paul Harb Cinematography : Jeffrey L Kimball. Bioskop : The Expendables - Saturday, 14 Agustus 2010, 13:45 WIB, Row B, Seat 17, Studio 01, Surabaya Town Square (SUTOS XXI), IDR : 35.000,00

Sylvester Stallone mulai mengumpulkan aktor favorit pemirsa tahun 80'an terutama asia termasuk Indonesia, tahun dimana penonton mendewakan adegan keras adu fisik, badan kekar, perkelahian brutal, dan banyak sekali ledakan minus CGI, bukan Alpacino dari trilogy film Godfhater melainkan para jagoan kelahi berotot. Merekrut belasan aktor dan hampir keseluruhannya ikonik, mulai dari Terminator (Arnold), Rambo dan Rocky (Stallone), Die Hard (Willis), hingga Tai Chi Master (Jet Li). Kita menyaksikan sekumpulan aktor yang pernah merdeka dimasanya, bersama mencoba menerobos kembali genre yang pernah berjaya dan Satallone tau apa yang dia perbuat, dia sudah terbiasa membuat film yang disutradarai, diproduseri, dan dimainkan oleh dirinya sendiri. Sangat disayangkan Jean-Claude Van damme, Chuck Norris, dan Steven Seagal batal ikutan bergabung.


Trench: "Give this job to my friend here. He loves playing in the jungle, right?"
Barney Ross: "Right".
Mr. Church: "What's his problem?"
Dalam beberepa aspek The Expendables sudah menjelma seperti film 80'an, saya tidak peduli dengan kualitas naskah yang diracik Stallone dan Dave Callaham meski dia pernah mendapatkan nominasi Oscar untuk film Rocky (1976), Callaham malah pernah membuat naskah yang buruk untuk film Doom (2005) dan Horsemen (2009). Namun dengan komposisi belasan aktor beken, fokus naskah memang harus diperhatikan dan bagi saya porsi peran masing-masing aktor sudah cukup berimbang. Menarik sekali menyaksikan trio legenda Arnold, Willis, dan Stallone berada dalam satu scene, momentum pertemuan pertama dalam sejarah. Well, inilah film jantan dengan nuansa pria yang kental, berating R dan memang ditujukan bagi orang dewasa. Jadi tidak perlu kembali kembali ke tahun 80'an untuk menyaksikan film action, The Expendables sudah lebih dari cukup untuk mewakilinya.

WHO IS SALT, EVELYN SALT?

Diposting oleh Budi Cahyono On 1:03:00 AM 2 komentar

Pemain : Angelina Jolie, Liev Schreiber, Chiwatel Elijofor, Daniel Orbrychski, August Diehl, Daniel Pearce, Hunt Block, Andre Braugher, Olek Krupa, Cassidy Hingkle, Corey Stoll, Vladislav Koulikov, Olya Zueva, Kevin O'Donnell, Gaius Charles, Zach Shaffer, Albert Jones, Zoe Lister Jones, Paul Juhn, Tika Sumpter. Sutradara : Phillip Noyce. Penulis Naskah : Kurt Wimmer. Produser : Lorenzo di Bonaventura, Sunil Perkash Tanggal Rilis : 28 Juli 2010 (Indonesia) Sinematografi : Robert Elswit. Editing : Stuart Baird, John Gilroy Durasi : 100 Menit. Genre : Action, Thriller, Spionase. Musik : James Newton Howard. Rating : PG-13 Distributor : Columbia Pictures
Evelyn Salt: What is your name?
Orlov: My name is Vassily Orlov. Today, a Russian agent will travel to New York city to kill the President. This agent is KA-12.
Evelyn Salt: The KA program is a myth.
Orlov: Don't you want to know the name?
Evelyn Salt: You're good. You can tell the rest of your story to one of my colleagues.
Orlov: The name of the agent is Evelyn Salt.
Evelyn Salt: My name is Evelyn Salt.
Orlov: Then you are a Russian spy.
Ngabuburit dengan nonton film Salt, pilihan terakhir setelah The Exspendables. Barangkali susah memang mencari aktris yang tangguh dan mematikan selain Angelina Jolie, saya hanya berhasil menyebut satu nama lagi yakni Milla Jovovich dari serial adaptasi game laris, Resident Evil. Jolie, wanita tomboi yang mampu membekuk 10 begundal tengik sekaligus, dia memiliki hormon yang banyak dan disana (lagi-lagi) dia bisa menang telak. Salt berlari seperti Jason Bourne a.ka David Webb saat menuju ending cerita film Bourne Ultimatum (2007), mimik wajahnya multitafsir tentang kepada siapa dia berpihak meski ada saatnya kita juga tau apa yang dia rasakan sewaktu melihat dengan mata kepala sendiri sang suami wafat ditembak.



Katalog filmografi Jolie tampak sudah lazim memainkan peran keras seperti Lara Croft : Tom Raider (2001), Mr. And Mrs. Smith (2005), dan Wanted (2008), kini Salt (2010) dengan lingkup genre yang bertema kontra intelejen dan double agent yang serba misterius dan mencekam membuatnya tampil manis dan meyakinkan meski bernama Salt “garam”. Dalam bayangan saya Tom Cruise pasti sedang duduk kecewa sambil terus mengunyah popcorn yang dibelinya di loby saat nonton film ini di bioskop, dia menolak memerankan Salt dan lebih memilih Knight And Day (2010) yang super tidak serius dan jeblok dipasaran itu. Menarik sekali menelusuri dunia per-intelejen-an dan siapa yang tau jika ternyata teman akrab serta orang yang kita sayangi adalah seorang spy agent? Saya memandang Phillip Noyce berhasil menyuguhkan tensi Salt kejenjang yang lebih baik, meski dalam beberapa scene terlihat tidak wajar dan menghina akal sehat, namun Salt pantas disejajarkan dengan serial Bourne dan James Bond versi Daniel Craig dengan Casino Royal-nya (2006), taktik ending yang memunculkan twist dan menyisakan misteri tentang siapa sebenarnya Salt, benak penonton serentak akan berguman dan merengek satu kata yakni sebuah sekuel atau lanjutan.

Riwayat Tiket Bioskop : Salt - Satruday, 14 Agustus 2010, 15:40 WIB, Row D, Seat 03, Studio 06, Surabaya Town Square (SUTOS XXI), IDR : 35.000,00


YOUR MIND IS THE SCENE OF THE CRIME

Diposting oleh Budi Cahyono On 4:10:00 PM 9 komentar

Pemain : Leonardo DiCaprio, Ellen Page, Marrion Cotillard, Tom Hardy, Ken Watanabe, Joseph Gordon-Levitt, Dileep Rao, Cillian Murphy, Tom Berenger, Micahel Caine, Lukas Haas, Tai-Li Lee, Claire Geare, Magnus Nolan, Taylus Geare, Jonathan Geare, Tohoru Masamune, Russ Fega, Tim Kelleher, Peter Basham, Micahel Gaston, Andrew Pleavin, Jason Tendell, Jack Gilroy, Shannon Welles. Sutradara : Christopher Nolan Produser : Christopher Nolan, Emma Thomas. Co-Produser : Jordan Goldberg Executive Produser : Chris Brigham, Thomas Tull Naskah : Christopher Nolan Tagline : "Your mind is the scene of the Crime" Musik : Hans Zimmer Sinematografi : Wally Pfister Kasting : John Papsidera Genre : Action, Thriller, Sci-Fi, Drama, Adventure, Mystery Rating : PG-13 Tanggal Rilis : 16 Juli 2010 Durasi : 148 Menit Editing : Lee Smith Distributor : Warner Bross Pictures Bioskop : Inception - Monday, 19 Juli 2010, 12:15 WIB, Row C, Seat 15, Studio 01, Surabaya Town Square (SUTOS XXI), IDR : 20.000,00

Sebuah film paling ditunggu tahun ini, berisi barisan ensemble cast kelas festival dan disutradarai oleh Christopher Nolan yang sukses mengarahkan Memento (2000) dan The Dark Knight (2008), Inception mengusung kisah thriller psikologikal futuristik yang berbalut twist didalamnya, seperti campuran dua judul diatas dengan Dark City dan trilogy Matrix. Secara singkat (untuk menghindari spoiler) Inception bercerita tentang Cobb (DiCaprio) pencuri profesional yang mampu mencuri lewat alam bawah sadar, lelah karena selalu diburu dan mencoba menebus kesalahannya, Cobb direkrut untuk sebuah misi mustahil yaitu menanamkan ide dalam pikiran korban, mampukah?
Cobb: What do you want?
Saito: Inception. Is it possible?
Arthur: Of course not.
Saito: If you can steal an idea, why can't you plant one there instead?
Arthur: Okay, this is me, planting an idea in your mind. I say: don't think about elephants. What are you thinking about?
Saito: Elephants?
Arthur: Right, but it's not your idea. The dreamer can always remember the genesis of the idea. True inspiration is impossible to fake.
Cobb: No, it's not.
Ekspektasi terlalu tinggi menggelanyut dibenak calon penonton, sulit dihindari dan celah lubang hitam itupun akhirnya mulai terkuak, Avatar versi Camreon juga memiliki lubang yang sama. Dejavu, ada banyak persamaan dengan film lain, dimodifikasi menjadi mimpi versi Nolan. Pemainnya tampil baik semua, meski fokus utama tetap pada duet DiCaprio-Cotillard, performa keduanya sangat prima begitu pula dengan Murphy dan Watanabe plus penampilan Ellen Page yang sangat menarik lewat film ini. Nolan berhasil memadukan sisi kualitas dan hiburan komersial sekaligus, action-nya seru, special effect-nya mengagumkan, dan iringan instrumental score keren gubahan Hans Zimmer. Nolan kini menjadi salah satu sutradara paling disegani Hollywood. Inception mungkin lebih ringan dari Shutter Island yang juga dibintangi oleh Leonardo, namun penting untuk konsentrasi saat menikmati film ini, karena setiap detailnya berpengaruh secara signifikan terhadap jalan cerita. Sebuah karya penuh imajinasi dan 148 menit durasi yang kaya akan vitamin dan gizi, bisa dikatakan demikian karena Inception dan Nolan sanggup mengubah budaya summer film yang sebelumnya selalu menganaktirikan naskah dan akting pemain, serta layak diapresiasi lebih. Nolan seperti tak perlu menjelaskan secara detail keseluruhan isinya kecuali teori tentang mimpi, penontonlah yang diberi kebebasan untuk menerjemahkan hasilnya. Pada akhirnya lubang yang semula menganga diatas tertutupi oleh kualitas faktor pendukung yang lain, Selamat menonton.


PIXAR SHORT FILM (2000-2009)

Diposting oleh Budi Cahyono On 1:27:00 AM 1 komentar

Setelah Day and Night sukses menghibur kita, flshback kita kembali melihat kebelakang. Pixar selain memproduksi film panjang (feature) juga rajin memproduksi film pendek, biasanya film berdurasi kurang dari sepuluh menit ini muncul sebelum atau sesudah film panjangnya main. Ada banyak film Pixar dan mereka pernah mengemasnya dalam bentuk home video berjudul Pixar Short Film Collection - Volume 1 tahun 2007 silam, You Friend The Rat (2007) hingga Dug's Special Mission (2009) belum termasuk didalamnya, disini kami ingin sedikit me-review film pendek Pixar selama satu dekade lalu, berikut diantaranya

For the Birds (2000)
Menceritakan sekumpulan burung kecil yang imut dan lucu (terutama kicauannya), ada seekor burung berukuran besar datang ingin ikut nimbrung namun mereka tidak suka, apa yang akan mereka lakukan untuk mengusirnya? untuk ukuran tahun 2000, animasi yang diterapkan sangat baik dan mencengangkan, ceritanya lucu dan menghibur. Ladang gandum sebagai backgroundnya mengingatkan kita pada film Toy Story 3 dan A Bug's Life.

Mike's New Car (2002)
Mike's New Car adegan yang tidak ditampilkan dalam film Monster, Inc, ya bisa dibilang begitu. Menceritakan tentang Mike yang mempunyai mobil baru dengan teknologi masa kini, apakah yang baru selalu lebih baik dari yang lama? sangat lucu dan mungkin bisa membuat anda tertawa lepas disini, senada dengan film panjang yang juga sangat menghibur.
_
Boundin' (2003)
Bila Mike's New Car dan For The Bird murni untuk hiburan, disini kita diajak untuk menyelami pesan yang ingin disampaikan oleh Pixar kepada penonton. Seekor domba yang sedih karena bulu yang melekat dibadannya dicukur oleh si empunya, lalu datanglah hewan yang merubahnya untuk tetap tegar menghadapi itu, menarik sekaligus positif.

Jack-Jack Attack (2005)
Lain Mike's New Car lain pula dengan jack-Jack Attack, dirilis tahun 2005 setelah film The Incredibles, film ini memang menceritakan adegan yang tak disematkan dalam filmnya tentang ulah Jack-Jack sebelum The Syndrom datang mengambilnya dari babysitter. Sangat hebat, ya Jack-Jack sangat hebat dia mempunyai gabungan beberapa kekuatan sekaligus, kita melihat segerombolan pasukan X-Men pada dirinya.

One Man Band (2005)
Seorang pengamen dengan berbagai alat musik, sangat ribet hingga sangat susah untuk ditiru. Lalu ada anak kecil dengan sekeping uang dan datangnya pengamen saingan, siapakah yang akan mendapatkan sekeping uang milik anak tadi? ceritanya simple tadi seru karena disini akan ada persaingan diantara dua pengamen tadi
 
Mater and the Ghostlight (2006)
Mater, sejenis mobil derek yang telah berusia tua, masih memiliki rasa humor yang baik adalah kelebihannya. Suka menakut-nakuti mobil lain namun sebenarnya dia yang paling takut dari selurh penduduk Route 66 apalagi ketika mendengar cerita tentang Ghostlight, siapakah ghostlight itu? yang jelas adegan ini sangat tidak penting bila dimasukkan dalam filmnya, lain halnya dengan Jack-Jack Attack diatas, overall ceritanya cukup unik.
Lifted (2006)
Percayakah anda bila ternyata ada juga alien yang masih belajar menculik manusia? untungnya warga yang dibuat kelinci percobaan ini hanya yang berada jauh dengan penduduk lainnya, jadi kemungkinan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya sangat tidak mungkin, seperti itulah premis film pendek ini, menggelitik dan lucu. Point tambahan buat efek suaranya yang jempolan, begitu pula dengan visualisasi tubuh aliennya yang berbentuk mirip jelly.

Your Friend the Rat (2007)
Film pendek "terpanjang" buatan Pixar, menggabungkan beberapa teknik sekaligus. Ada teknik animasi sederhana dan tradisional (2-D), CGI untuk Remy dan Emile, serta Stop-Motion, bahkan juga memperlihatkan tampilan game kuno saat pasukan kanada membasmi tikus. Cerita yang dibangun pun terasa berat dan sedikit kontroversi, apakah tikus itu musuh atau teman?

Presto (2008)
Menceritakan seorang master sulap dan kelinci yang kelaparan, topi ajaib si pesulap adalah fokus utama sekaligus yang paling lucu disini. Entah di film pendek lainnya ada atau tidak, namun Presto memiliki tingkat kesalahan adegan yang banyak, bukan bukan karena rendering CGI-nya yang buruk karena untuk hal itu sudah pasti bisa diatasi oleh Pixar. Overall, ceritanya lucu dan akan membuat anda tertawa sekaligus takjub dengan keahlian sang pesulap dan penampilan si kelinci yang menggemeskan. 


Burn E (2008)
Burn-E adalah robot yang bertugas untuk memperbaiki segala kerusakan yang ada di Axiom, punya kaitan cerita dengan kisah film WALL-E namun jelas adegan difilm ini tidak ada difilmnya. Sangat unik dan lucu terutama ekspresi para robotnya yang seperti bernyawa dengan karakter yang juga manusiawi, padahal mereka robot. Lewat film ini kita akan tau atas dampak yang ditimbulkan oleh WALL-E dan Eva terhadap yang lainnya termasuk si Burn-E ini.

Partly Cloudy (2009)
Film ini agak ambigu dan kontroversi tentang siapa pencipta manusia dan alamnya, apakah tuhan itu awan? dan menyuruh seekor angsa untuk mengantarkannya? mungkin bukan itu maksudnya tapi entahlah, overall original score dari Micahel Giacchino berhasil membuat film ini terasa lembut.

Dug's Special Mission (2009)
Gagal menangkap Kevin akibat bertabrakan dengan Dug, sekawanan anjing jahat mengutus Dug pada sebuah misi spesial, misi apakah itu? berhasilkah Dug menjalankan misi ini? mendengar suara tiga anjing begundal tengik ini saja bikin saya tertawa geli, apalagi Dug yang bodor mengacaukan segalanya, serba kebetulan tapi sangat menyenangkan untuk diikuti.


Sebuah film pendek dari Pixar Animation Studio, mereka selalu membuat film pendek sebelum dan atau sesudah film utamanya muncul, meski hanya berduarsi kurang dari 10 menit filmnya dibuat tidak setengah-setengah. Bahkan beberapa diantaranya berhasil membawa pulang piala Oscar. Day And Night bercerita tentang makhluk bernama siang dan malam, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan, apa yang membuat mereka bersatu?
“The Radio Broadcast in Day and Night is taken from atalk given Dr. Wayne Dyer, a motivational speaker and author. director Teddy Newton remembered hearing on recording his mother played when he was young, and he decided to incorporate one of the recordings into the films”-Behind The Scene
Idenya sangat kreatif, ceritanya unik dan lucu meski tidak akan membuat anda tertawa lepas, pesan yang ingin dikumandangkan tepat sasaran dan tidak terkesan menggurui. Point plus lainnya adalah sajian teknologi animasi tingkat tinggi, disini Pixar menggabungkan animasi tradisional (2-D), CGI, dan dipresentasikan lewat 3-D, hal yang sama seperti saat mereka membuat You Friend The Rat (2007) minus presentasi 3-D tentunya. Well, hingga detik ini Pixar masih memimpin terdepan untuk kategori film animasi terbaik, jadi tidak sabar menunggu proyek Short Film lainnya begitu pula mega proyek Cars 2 dan Monster Inc 2 tahun 2011 dan 2012 nanti, hanya saja hal itu masih sangat lama :)

Buzz Lightyear kembali ke layar lebar setelah sepuluh tahun, penantian panjang dan melelahkan namun datang disaat yang tepat, terlalu banyak yang merindukan kisah mainan ini. Ekspektasi besar berada dibalik perkiraan semua benak calon penonton tentang bagaimana Woody akan dikisahkan dan fase kedewasaan Andy yang segera menuju ke jenjang kuliah, Lee Unkrich jelas bukan orang sembarangan, dia menjadi Co Director untuk 2 film Toy Story, Monster. Inc, dan Finding Nemo. Proyek ini sangat prestisius dan bernilai ratusan juta dollar, bukan pekerjaan main-main meski berkisah tentang mainan. Kita semua mencintai Buzz Lightyear, Woody, Jessie, Mr. Potato Head, Rex, Bulleyes, dan lainnya, bagi mereka yang lahir pertengahan hingga menuju akhir tahun 80′an, kami pun berada disana. Saat Toy Story dirilis tahun 1995 kita belum berumur sepuluh tahun waktu itu, menyenangkan rasanya memory itu kembali datang.

Pixar membawa pioner film tiga dimensi pertama kelayar lebar lewat Toy Story berkembang hingga Up tahun lalu, ada kesan tersendiri saat kita beranjak dewasa dengan Pixar terlebih bagi kalian yang saat ini hendak kuliah dan memang mengikuti seri Toy Story sejak awal rilis. Kita akan melihat kebelakang dan terdiam melihat satu kardus dibawah tempat tidur atau tempat lain yang berisi mainan dan sudah lama tidak kita mainkan, tersenyum karena kita pernah melewati era keemasan bersama mereka. Bernostalgia dengan memory masa lalu tentang mainan dan boneka, sebuah benda mati yang ditafsirkan hidup sesuai daya intepretasi dan kekuatan dalam beriimajinasi tentang dunia tanpa sekat yang menyenangkan. Berubah megah menjadi suatu hal yang istimewa yang hinggap nan melekat saat kita kecil dan menjadi sebuah kenangan manis sebagai teman bermain, berapa detik durasi dalam hidup yang kalian sediakan untuk mereka kala itu? kita mungkin tidak menghitungnya. Yang jelas saya pernah mengalami masa-masa itu dan kalian pun demikian, yang kita tau bahwa mereka hidup ketika kita sedang berimajinasi, memainkan peran mereka. Namun yang tidak kita tau disanalah ternyata mereka benar-benar hidup, berinteraksi saat kita tidak ada, bercengkrama dalam dunianya, petualangan seru lintas batas, dan perasaan mereka terpengaruh saat kita pun mulai melupakannya, menyenangkan mengetahui semua itu ada di Toy Story trilogy.
“kami berusaha membuat film yang kami sendiri ingin lihat, orang tak ingin dikecewakan film ini. aku juga tak ingin dikecewakan film ini! ini akan jadi film yang lucu dan memuaskan.“-Lee Unkrich.
Waktu akan terus bergulir dan “Andy’s going to college, can you believe it?” siapapun kalian yang beranjak dewasa dengan film ini yang saat ini segera dan atau sedang mengenyam bangku kuliah akan segera diingatkan, “what are you going to do with these old toys?” kita meninggalkan rumah dan mulai tinggal di asrama atau kosn, orang tua kita akan membereskan kamar kita, memindah dan membuang yang tidak perlu. Pilihan harus segera dicetuskan, membawa mainan ke asrama, menaruhnya diloteng/gudang, membuang ke tempat sampah, atau mewariskannya kepada ponakan berumur 5 tahun? kita menghadapi sebuah sejarah disini, berpisah dengan orang tua yang telah membesarkan kita sejak kecil. Bukan peristiwa yang harus disesali, mungkin berat untuk melepasnya namun disatu titik semua itu akan selalu terjadi, dan itulah jalan terbaik. Sebuah premis manis dan indah dari penulis naskah Michael Arndt, John Lasetter, Andrew Stanton, dan Lee Unkrich sendiri, Carl pernah merasakan hal itu di film Up begitu pula Finding Nemo, sebuah perjuangan berat yang harus dilalui dan kini Woody dkk sedang dalam ujian untuk menentukan sikap itu. Andy hanya akan membawa Woody ke kampus dan memisahkan yang lain ke sebuah loteng, sebuah tempat paling menyenangkan daripada dibuang ketempat sampah. Saat yang ditunggu-tunggu datang, dan sebuah kesalahan yang tidak diperkirakan hadir, ketika itulah sebuah petualangan terjadi. Lee Unkrich telah membuat kita sadar bahwa ada beberapa hal yang lebih penting yang berada dibalik sebuah kesalahan itu, terlebih saat sebenarnya Andy marah ketika mainannya hilang dan bukan loteng yang mereka dapati melainkan sebuah taman kanak-kanak-Sunny Side dengan segudang masalah dibalik wajah ceria itu, hanya ada satu pilihan selanjutnya. run definitely, run!
“bukan tentang bagaimana kau membuatnya, tapi apa yang kau lakukan dengan itu”-John Lasetter.
Menyaksikan kisah ini membuat saya pribadi sangat terhibur, sangat disayangkan porsi 3D didalamnya terasa kurang menonjol hanya kedalamannya saja yang terlihat lebih. Hal ini seperti yang sudah dijelaskan oleh John Lasetter sendiri bahwa “bukan tentang bagaimana kau membuatnya, tapi apa yang kau lakukan dengan itu”. Sebagai pentolan Pixar, John sangat menyukai 3D meski bukan itu yang dia fokuskan melainkan kedalaman cerita dan pengembangan karakter yang menjadi perhatian serius. Aksi Buzz dan Woody bisa jadi sangat lucu, tapi mereka juga bukan saja menjadi tontonan anak berumur 5-10 tahun, sebuah strategi umum yang diterapkan oleh Pixar. Kita dan orang tua tidak mungkin melepas bocah SD sendirian nonton film ini, akan ada pendamping saat nonton dan itu sudah pasti. Toy Story 3 kini memiliki hidup yang lebih berwarna, warna warni menghias lebih pekat saat berada di Sunny Side, taman kanak-kanak. Ada banyak pula mainan baru di Sunny Side, kita bisa melihat sebagai ciri khas film sekuel dengan penambahan banyak konflik dan karakter baru. Peter Parker menghadapi 3 penjahat difilm ketiga, begitu pula Jack Sparrow di Pirates Of The Caribbean At’s World End. Semua pemain lama reuni kembali disini kecuali Jim Varney untuk suara karakter Slinky, Pixar kali ini juga mengundang beberapa aktor senior, tidak seperti biasanya. Micahel Keaton, Jodi Benson, Timothy Dalton, Whoopi Goldberg, Richard Kind, dan Jack Angel. Hebatnya, mereka semua bermain dengan apik meski hanya sebatas nyumbang suara saja. Bisa dibilang kali ini Pixar kurang menyelipkan karakter atau pun benda dari film sebelumnya, fans Pixar sudah terkondisikan sejak awal tentang antisipasi kejutan ini. Bukan tidak ada, melainkan memang tidak secara gamblang adanya. Kita melihat banyak kesamaan dengan film sebelumnya yang mau-tidak -mau mengingatkan kita akan beberapa film Pixar sebelumnya, apa saja? semua, ada banyak film Pixar di Toy Story 3.
Berangkat dari ekspektasi diatas, meninggalkan bajakan adalah perbuatan bijak apalagi setelah lama tidak mengunjungi bioskop untuk ritual nonton film. Pixar tidak pernah mengecewakan saya, banyak hal dan itu telah terlewati serta dibayar dengan rasa puas. 1,5 jam perjalanan dari rumah demi tayangan 3D, membayar selembar tiket berharga 25 ribu, dan keluar studio membawa haru sekaligus senang. Kita diajak bermain roallcoaster disini, temperatur cerita berbeda genre. Daya khayal Andy diawal adegan sangat mendebarkan, seketika itu kita disambut oleh warna-warni pelangi di Sunny Side. Bila urat sudah mulai kendor dan adrenaline menurun, bersiaplah untuk tertawa saat Mr. Potato Head berubah bentuk disalah satu scene, atau saat Ken ingin menunjukkan daya tariknya dengan memamerkan ragam busana koleksinya kepada Barbie. Adakah yang tidak tertawa saat Buzz Lightyear diset ke mode bahasa Spanyol dan kembali keasal muasal sebagai polisi luar angkasa dengan misi menumpas Zurg ?? Melindungi Jessie dari pihak jahat serta rayuan mautnya dijamin akan membuat anda tertawa lepas dibioskop, sangat memorable. Menjelang ending saat semua harapan sepertinya berjalan dengan baik, 20 menit terakhir kita sejenak bernafas. Berfikir serta merenungkan tentang apa yang kita perjuangkan, tentang apa yang kita pertahankan. Kembali keawal, berpisah menjadi fokus cerita. Bukan perpisahan yang menyedihkan meski bagi penggemar hal itu terasa sangat mengharukan, jangan membayangkan hal sedih disini karena itulah jalan terbaik. Sebuah film masterpiece dan sangat direkomendasikan untuk disaksikan langsung dibioskop, nonton film Toy Story berarti melihat perjuangan Pixar selama ini. Berjuang menjadi yang terdepan, banyak cobaan tentunya. Sepuluh tahun kemudian dan hari ini kisah ini akan kembali menyapa anda, emosi para fans Toy Story akan lebih terikat disini. Bila kalian bertanya film terbaik 2010, saya akan bilang Toy Story 3 berada pada posisi Lima Besar disana.

PROFIL SAM WORTHINGTON

Diposting oleh Budi Cahyono On 6:22:00 PM 2 komentar
Seminggu nggak update Blog, banyak hal yang kemudian menjalar diotak yang sangat sayang bila kemudian hilang nggak ketemu-ketemu lagi nantinya. tapi pas nyampek ke pusat ide, eh malah bingung mau diapain. salah satu hal yang ingin kutulis di Blog yang seumuran jagung ini adalah profil aktor, aktris, sutradara, atau siapapun deh yang penting itu orang yang berada di depan maupun dibalik film. kalo perlu tukang gulung kabel dan supir sekalian, intinya biography nih. kebuntuan yang dimaksud diatas adalah kekurangtahuan gue akan tokoh-tokoh yang dimaksud, boro-boro mau angkat kisah hidupnya la wong ku aslinya memang jarang liat berita gossip selebritis. dan untuk nyari data sejak lahir, riwayat sekolah, dan kariernya pun nyatanya sulitnya minta ampun. namun gue nggak patah semangad soal kayak gituan, alih alih menyajikan sebuah kisah nyata hidup sang tokoh, gue malah kedapatan ide membeberkan sang aktor/aktris hanya berdasarkan gue sebagai orang awam yang taunya cuma nonton film bukan nonton acara gossip. jelas kisah tokoh disini sedikit agak ngawur karena kehidupan sang tokoh gue ceritain sesuai film yang pernah dia peranin, tokoh kali pertama yang gue angkat adalah Sam Worthington yang terakhir kali kita ketemu dengannya lewat sebuah lakon film berjudul Clash Of The Titans awal bulan April lalu.

Sam Worthington menurut catatan sipil Godalming Surrey, Inggris, Sam dilahirkan tanggal 2 Agustus tahun 1972 dengan nama panjang Samuel Shane Worthington, Sam juga lulusan NIDA (Australia's National Institute of Dramatic Art) tahun 1998. terlepas dari catatan sipil diatas, Sam sebenarnya lahir dari seorang Raja dengan Dewa Yunani yang tak lain adalah Dewa Zeus di Olympus yang dalam catatan sipil bernama Liam Nesson.  Bayi hasil nikah silang manusia dan tuhan kepercayaan warga Yunani ini kemudian dinamai Perseus, hingga kini kita sebenarnya tidak perlu heran tentang daya magisnya dalam memilih karier hingga takdirnya kelak. mengingat kemungkinan bantuan sang ayah bisa saja merubah sesuatu yang sebelumnya kurang begitu istimewa menjadi ekslusif, angka $749.090.000 hanya untuk peredaran domestik untuk film Avatar adalah bukti betapa sakti mandraguna si Sam ini serta angka $125.322.000 untuk Terminator Salvation, dan $161.401.000 untuk Clash Of The Titans. pesan bokapnya untuk menutup rapat rahasia tentang jati dirinya didepan publik ternyata sedikit berbuah konyol saat dikabarkan si Doi ini pernah melakoni sebagai pekerja batu bata di negeri kanguru selepas menumpas Kraken, bagaikan sebuah alien yang sedang menyamar dalam MIB kini Perseus berubah menjadi Sam Worthington dan berKTP Australia tepatnya di Rockingham, Australia Barat. beruntung kerja serabutan yang digelutinya segera ditinggalkan ketika ada tawaran untuk main dibeberapa film di Australia, dampak pertempuran melawan monster kalajengking raksasa menyebabkan penglihatan Sam agak kabur, namun meski begitu Sam hingga kini merasa malas untuk mengenakan kacamata sesuai anjuran dokter. dimasa mudanya saat masih bernama Perseus, Sam pernah memiliki hubungan asmara dengan Io alias Gemma Artenton. namun hal ini tidak berlangsung lama, putus dengan Sam Io kemudian memilih menjadi putri penjaga The Sand Of Time di Persia.
Seorang teman saya mengatakan kepada saya baru-baru ini, "Ini pertama kalinya saya pernah melihat Anda bekerja, Worthington." Saya pikir itu cukup lucu, tapi dia benar.
Sukses berkarier dibidang film ternyata tidak membuat Sam puas, sisi gelap putra sang dewa muncul atas asutan pamannya sendiri yang kita kenal dengan nama Ralph Fiennes yang bergelar Hades sang iblis neraka. Sam kemudian terlibat beberapa proyek rahasia bernama Skynet yang kemudian berusaha dihentikan produksinya oleh John Connor karena mengakibatkan terbunuhnya banyak manusia, sebelum itu terjadi tidak jelas Sam Worthington bekerja sebagai apa disana. kemungkinan besar pengaruh rabun yang dideritanya sejak dahulu kala mengakibatkan dia tidak akan menjabat sebagai teknisi ahli, hingga pada akhirnya kesalahan yang diperbuat oleh Sam mengakibatkan dia dijebloskan kepenjara oleh Skydyne pada tahun 2003, kemudian perang nuklir pun tidak dapat terelakkan. akibat perang nuklir inilah sisi kemanusian Sam sedikit goyah apalagi tekanan bathin ketika mendekam dipenjara telah merubah cara berpikir Sam yang kemudian dapat kita simpulkan bahwa Sam dicuci otak oleh Robot pintar berjenis kelamin perempuan yang sebelumnya menikah dengan Tim Burton, bernama Dr. Serena Kogan alias Helen Bohnam Carter. sam kemudian berganti nama menjadi marcus Wright, tentu sang ayah tidak tinggal diam oleh hasutan dan kebiadapan skynet yang lepas kontrol gara-gara Hades tadi, ditahun 2018, John Connor yang memang getol dalam menentang teknologi robot yang telah merenggut nyawa ibunya ini kini berusaha menyadarkan Sam atas statusnya yang kini menjadi setengah Manusia, setengah, Dewa, dan setengah Robot. proses penyadaran ini tidak begitu saja berlangsung mulus sesuai perkiraan Zeus, dendam pribadi antara John Connor dengan para sesepuh robot membuatnya sedikit ada adegan brutal. apalagi keadaan bumi kini menjadi gersang dengan prilaku manusianya yang agak primitif, era post apoclypse membuat John makin kurang ajar memperlakukan Marcus/Sam/Perseus. untungnya proses sadar juga mulai bangkit dari diri marcus sendiri, menyesali akibat perbuatannya dimasa lalu kini marcus ingin memhapus dosa tersebut dengan membantu John membunuh Helena.
_
Kemengan pun berada digenggaman marcus, akhir bahagia ini juga diberikan oleh ayahnya karena telah mempertemukannya dengan saudara kandungnya, namun hal itu tidak berlangsung lama akibat sifat saudaranya yang bernafsu menjadi peneliti yang kemudian berakibat fatal dan berakhir dengan kematian. marcus/sam/perseus kemudian sempat menghilang dari peredaran pers selama beberapa tahun karena masih dalam masa berkabung, beberapa tahun menghilang Sam kemudian menampilkan diri dihapadapan pers tentang kepergiannya tersebut. dari pengakuan Sam, kini dia mengaku telah menghilang demi menjadi ksatria [sesuai dengan aliran darahnya yang memang keturunan dewa] dengan mengikuti latihan militer serta mengganti namanya menjadi Jake Sully, sangat disayangkan konflik internal antara Zeus dan Hades tidak putus-putusnya digadangkan di Olympus. untuk mengusir Hades, Zeus terpaksa menyerap tenaga seluruh kekuatan dari anak-anaknya. naas, disaat yang bersamaan Sully sedang dalam melaksanakan pertempuran dimedan perang. dan Sully pun terluka dan lumpuh akibat perang tersebut untuk selamanya, Zeus jelas menyesali perbuatannya ini yang lalu mengutus Sully menjadi wakil saudaranya dalam misi yang lebih menyenangkan hatinya. yaitu bergabung dalam proyek berbiaya gila-gilaan bernama Avatar, disini Sully dapat sedikit melupakan kakinya yang lumpuh dengan memakai double Body bernama Avatar yang diambil berdasarkan penduduk sekitar Planet Pandora tempat misi ini dijalankan.
.
Lama tidak menjalin kisah asmara dengan perempuan apalagi sejak menjadi Robot, kini Sully cinlok dengan bunga desa suku Na'vi. perempuan beruntung tersebut adalah Neytiri yang sebelumnya sama-sama penduduk bumi, kisah asmara beda ras ini awalnya mendapat pertentangan keras oleh ayah angkat mempelai wanita. namun pembuktian Sully bahwa dirinya mampu menjadi warga na'vi yang baik dan benar, Sully akhirnya diberi kesempatan mempersunting neytiri plus dapat hadiah kendaraan seekor burung sakti. era post apocalypse yang terjadi di bumi akibat perang antara manusia dan Skynet menyebabkan sifat manusia yang berada di pandora ikutan berubah, serakah adalah kata kunci konflik yang terjadi. Sully pun bingung antara membela manusia yang memang mengalir dalam darah dagingnya atau suku baru yang dia kenal plus soulmate-nya, kita pun sudah tau bahwa Sully memihak Na'vi atas perintah Zeus sendiri yang sebelumnya sudah berdiskusi dengan Eywa [tuhannya planet pandora] plus dapat hadiah tambahan bernama Turok Maktok sang burung merah penguasa hewan Planet Pandora. perang pun dimenangkan oleh Sully dan pada akhirnya dia benar-benar jatuh cinta dengan Planet Pandora ketimbang kembali ke bumi menjadi artis film atau malah jadi tukang batu bata lagi, wujud kecintaan ini adalah Sully kembali menjadi double body, namun kali ini bukan hanya untuk sementara tetapi menjadi makhluk biru seutuhnya, kemungkinan jaminan menjadi manusia lagi atas ijin bokapnya juga melatarbelakangi tekadnya ini. siapakah sebenarnya Sam Worthington ini ??? apakah benar dia adalah anak keturunan Zeus ??? pertanyaan besar itu tentu tidak semuanya terjawab disini, karena memang sebenarnya dari paparan kisah hidup Samuel Shane Worthington belumlah lengkap dan cukup disini saja, karena menurut kabar masih banyak kisah-kisahnya yang akan dipublikasikan kedepannya beberapa diantara judul diary-nya yang akan diobral kepublik adalah Last Night [2010], The Debt [2010], dan The Fields [2011].


Finally, sekelumit kisah hidup Sam Worthington sudah gue bahas disini lewat post profil aktor/aktris pertama di blog ini. agak lebay memang, namun semoga menghibur dan memberikan informasi lebih kepada pembaca, lebih disini mungkin berarti nyeleneh dan sedikit ngawur :) untuk kesempurnaan post profil ini, monggo komentarnya dibawah. saran dan masukan akan sangat berarti buat blog ini :) :) :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

    Masukkan Email anda untuk berlangganan posting terbaru via e-mail GRATIS!

    Delivered by FeedBurner

    Add to Google Reader or Homepage -

    ShoutMix chat widget
    .
    .